Suatu Ketika Di Jogjakarta

Menginjakkan kaki di kota gudeg setelah menempuh perjalanan panjang Ende-Kupang-Surabaya dan dari Surabaya berjam-jam dalam bis menuju Jogjakarta itu melelahkan juga. Rontok!
Ini kali pertama saya ke Jogja *berharap ada yang kedua dan seterusnya* 😛
Hihiii.

Menginap di hotel sekitaran Malioboro yang merupakan petak teramai kota Jogja membuat lapar mata. pasalnya segala yang lucu-lucu, enak-enak ada di sana. Menjejakkan kaki di setiap jengkal Malioboro hanya untuk melihat-lihat apa yang membuat jalanan ini begitu ramai namun tetap ramah untuk pejalan kaki. Meski harus beberapa kali menghindar dari andong (saya takut deket-deket kuda soalnya) dan bersenggolan dengan pejalan kaki lainnya saat mata lebih memilih memperhatikan barang dagangan yang memenuhi teras toko di sepanjang Malioboro. Seakan tak pernah sepi.

Demikian pula hingga malam hari, bermunculan lesehan yang menjajakan aneka makanan murah meriah menggantikan posisi pedagang pagi yang sudah menutup dagangannya pada pukul 7 malam. Hadirnya grup music perkusi di pinggir jalan membuat suasana semakin ramai dan heboh. Orang-orang asyik saja berjoget di pinggir jalan, dikerumuni keramaian saat music perkusi memainkan salah satu lagu dangdut yang terkenal. Abege tua.
😀

Ah, Jogja. Kota ini begitu menawan.

Sore-sore duduk menikmati keramaian di tengah kota, di Titik Nol. Berdiri Istana Negara Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1824, di seberang jalan ada benteng Vredeburg yang saat ini berfungsi sebagai museum kota dan juga ada Monumen yang tujuan didirikannya untuk mengenang Serangan Umum 1 Maret 1949. Dari kota kecil Ende yang bersejarah dengan rumah pengasingan Bung karno dan tempat Bung Karno merenungan Pancasila, kemudian melihat sejarah yang lebih banyak di kota lain itu sensasinya berbeda.
Duduk menikmati kopi yang dijajakakan PKL dan dihibur oleh pengamen sambil menonton aksi pantomime beberapa mahasiswa yang dengan berbagai kostum. Kota ini sungguh menarik. Meski duduk di situ harus menyiapkan duit khusus pengamen yang silih berganti datang.
Di seberang jalan sana juga ada gedung sisa kejayaan arsitektur zaman kolonial. Ya! gedung kantor BNI di sisi selatan jalan yang dulu merupakan gedung asuransi pada zaman kolonia Belanda, kantor radio pada zaman pendudukan Jepang dan studio radio pada masa awal kemerdekaan. Di timur gedung BNI ada gedung kantor Pos Yogyakarta. Juga ada gedung kantor perwakilan BI yang dulunya adalah kantor de Indische Bank.Ketika malam turun di Titik Nol, suasana masih tetap ramai. Lampu jalanan dan taman kota menambah romantisme kota ini. Pun saat berjalan kaki menuju Tugu Jogja Kembali. Jalanan masih ramah dengan pejalan kaki. Sesekali tukang becak menawarkan jasanya dengan ramah.

Rasanya kurang afdol kalau ke Jogja tidak mengabadikan foto diri dengan latar belakang Tugu Jogja atau oleh pemerintah Belanda disebut De Witte Paal (tugu putih) yang menjulang setinggi 15 meter itu.
Setiap tempat yang menjadi landmark kota ini selalu dipadati oleh manusia-manusia yang haus akan pengabadian moment. Kamera di sana sini, bahkan ada yang langsung membuat sketsa di buku sketsa mereka. Mau foto pun pakai ngantri. Ckckck..
Jogja memang mempesona!

Romantis mistis. Mungkin begitu kota ini diciptakan. Mulai dari legenda Ratu Pantai Selatan, Keraton hingga Merapi yang penuh misteri.
Kisah Beringin Kembar di alun-alun Kidul (alun-alun selatan) cukup membuat penasaran, maka malam jumat itu saya mengikuti tuntutan adrenaline untuk mencoba. Lho kenapa malam jumat? Emang harus malam jumat? Hehee.. Kebetulan aja ke sananya malam jumat. Bisa coba siang dan malam kok, selama tidak capek menutup mata dan berjalan kek orang buta 😛
Malam itu saya bergabung dengan sekian banyak orang yang mencoba menaklukan kisah Beringin Kembar. Percobaan pertama miring hingga ke pagar beringin. Percobaan kedua nyaris masuk genangan air hujan di track menuju beringin dan tidak sengaja membuka mata. Kali ketiga berhasil! Yuhuuu!! Tembuus!
Intinya hanya perlu berkonsentrasi dengan langkah agar tetap lurus, tapi aneh juga sih melihat ada yang miringnya jauh banget sampai ke rerumputan sana.

Jauh-jauh dari kota yang sepelemparan batu udah ketemu pantai, eh ke kota orang masih carinya pantai juga. Hahaaa..
Berbekal google map akhirnya sampai juga ke Parangtritis. Jauh juga ya dari pusat kota. Orang Jogja buat main ke pantai harus menempuh perjalanan jauh. Hmm.
Parangtritis yang adalah pantai selatan Jawa ini menghadap langsung ke arah Samudra Hindia. Pantas saja ombak di sana tidak santai. Beberapa tempat dipasang plang larangan berenang dan mas-mas Baywatch-nya siap siaga di tempat.
Jadi kalau ke pantai nggak main air, kita buat apa donk? tenang, kebetulan sekali saat saya ke sana pantai lagi ramai sama Festival Paralayang dan Gantole. Pas manteb banget kan yah.. 😀
Sekalipun saban hari pantai ini ramai, sore hari di weekend tanggal 8-10/02 keramaian membludak karena ada perhelatan paralayang yang bertajuk Jogja Air Show 2013. Awalnya ke Parangtritis untuk Menikmati atmosfir romantis mistis sambari menjerat senja dan mengabadikannya, tapi langit Parangtritis sore itu yang dipenuhi oleh atraksi aerobatic atlet-atlet paralayang, gantole dan paramotor cukup menarik perhatian. Sesekali mereka meliuk rendah seakan ingin menggoda pemotor di bawah. Sesekali menukik tajam di atas air laut. Keren!
Suasana ramai hingga senja turun sempurna.

Senja Parangtritis cantik!
Senja memang cantik di manapun dan selalu semakin cantik saat kita bersama orang-orang yang kita harapkan untuk ada. 😀

Ke Jogja adalah tentang kulinernya juga. Mencoba gudeg itu sudah pasti hukumnya wajib. Tapi mengingat pencernaan saya yang kadang sering kumat manjanya, jadi kali ini cukup berhati-hati memilih menu makanan. *trauma wisata kuliner di Makassar*
Kalau soal mencoba coklat aseli Jawa yang begitu menggiurkan selalu ada kesempatan untuk itu. coklat Monggo, Soklate, Chocodot.. hmmm.. Daku rela genduuut!!
Begitu juga soal makanan oleh-oleh khas Jogja, bakpia patek! Selalu ada waktu untuk membeli dan membawa pulang ke kampong halaman.

Jogja memang enak!

Pokoknya banyak hal yang teringat ketika mendengar atau membaca tentang Jogja. Kota ini begitu melekat di hati. Suatu ketika di Jogjakarta, segala tentang romantisme, mistis, kuliner, budaya, seni, sejarah.. akan berubah menjadi kerinduan untuk dipertemukan lagi.
Semoga suatu saat bisa kembali ke kota berhati nyaman ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *