Kopi Bajawa dan Kampung Tradisional Bena

Bajawa adalah ibukota dari Kabupaten Ngada, sekitar 4 jam perjalanan dari Ende ke arah barat. Karena letaknya yang berada di dataran tinggi, daerah Bajawa terkenal dengan suhu udaranya yang dingin.  Makanya jenis tanaman yang santer dibicarakan hingga keluar negeri tumbuh subur di daerah ini. Apalagi kalau bukan Kopi Bajawa. Saya pun demikian penasaran seperti apa rasa kopi Bajawa. Menikmati kopi Bajawa langsung di daerahnya semacam okeh. Maka berangkatlah saya ke Bajawa menumpang travel Ende-Bajawa dengan tarif  IDR 70.000. Bajawa ternyata tidak seluas kota Ende, di dalam kota sendiri tidak terdapat bemo/angkot hanya ada ojek. Mungkin karena itu masyarakat Bajawa rerata punya mobil pribadi. Bajawa juga hanya punya 1 traffic light dan 1 pasar dalam kota. Selebihnya semua dapat ditempuh dengan berjalan kaki.  Bagus untuk yang berniat hemat bahan bakar dan membakar  lemak berlebih! 😀

Di Bajawa saya numpang nginap di rumah teman kuliah, namanya Damayanti.  Dia yang menemani saya ke pasar untuk membeli kopi (biji kopi) sekaleng margarine 1kg dipatok harga IDR 25.000. *Yang kemudian sampai di rumah ditimbang ulang ternyata cuma 800gram. 😛 Kemudian saya bertanya, “Di sini tempat nongkrong anana muda di mana? Atau kafe buat ngopi begitu?”. Dari banyak orang yang saya tanya menjawab tidak ada tempat nongkrong di Bajawa. Jam 8 malam jalanan sudah sepi. Semua memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah. Seorang lantas menyarankan saya mencari kafe ‘Mai Dia’. Maka jadilah Damayanti sebagai tour guide yang tidak ngeh sama yang namanya ‘nongkrong di kafe’ membelah kota Bajawa.  Meskipun Bajawa demikian kecil tapi tempat yang ditunjuk susah dicari lantaran tetangga kafe yang empunya warung ngopi menjawab tidak tahu dan kafe itu belum terpasang plang papan nama. Lucky us, ada yang lewat dan menunjuk salah satu bangunan bercat krem dan berpenampakan seperti rumah huni. Kafe ‘Mai Dia’! hahaha.. tepat di seberang dari warung kopi tempat kami berhenti dan bertanya setelah beberapa kali keliling blok itu.“Hiii.. itu bukan kafe Mai Dia laaaa.. itu kafe tanpa nama laaa..” nyinyir si empunya warung kopi dengan logat Bajawa kental.
Kopi Bajawa lumayan. Meski agak pahit karena gulanya cm 3 sachet :p atau  mungkin lidah saya yang  terbiasa dengan kopi Ende yang harum karena diracik sendiri sama Mama kali ya, lantas merasa kopi Bajawa kurang nendang. Di kafe itu juga dijual kopi arabika Bajawa dalam paket 250gram IDR.30.000. Dan percangkir kopi dipatok harga IDR5.000. Eh, Mai Dia itu berasal dari bahasa Bajawa, yang berarti berarti Mari Sini. Café ini punyanya Pemda Bajawa. Nice! 🙂

kopi Bajawa di Mai Dia cafe

Berada di Kabupaten Ngada tanpa mengunjungi Bena adalah sia-sia. Bena adalah kampong adat yang berada di bawah kaki gunung Inerie, kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan kota Bajawa. Sebuah kampong peninggalan megalitikum yang dipercaya ada sejak kurang lebih 1200 tahun yang lalu.  Kampung ini memiliki 45 rumah adat, selain itu juga memiliki Ngadhu Bhaga dan Nabe. Bangunan Bhaga sendiri mirip pondok kecil dan tidak dihuni. Ngadu merupakan bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk, mirip gazebo. Di sekitar rumah terdapat bebatuan ceper hingga yang tinggi menjulang, dipercaya menjadi tempat pemujaan di jaman dahulu kala sisa peradaban di zaman megalitikum. Juga terdapat tanduk-tanduk kerbau yang mungkin hasil kurban dirangkai bersusun di dinding rumah bagian depan. Meski dahulunya warga Bena adalah penganut kepercayaan pada roh atau dewa-dewa dan masih menjalankan ritual peninggalan leluhur seperti menyembelih hewan kurban untuk membersihkan bebatuan megalitikum, sekarang mereka adalah pemeluk agama Katholik. Di ujung selatan kampong yang letaknya lebih tinggi terdapat semacam gua tempat warga sembayang, lengkap dengan patung Bunda Maria. Dari sini juga view secara keseluruhan kampong Bena dapat kita lihat. Bentuk kampong Bena yang meyerupai perahu. Ini menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap sebagai wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya.

Eh, jangan salah, meskipun kampong tradisional, rumah-rumah di Bena ini sudah dilengkapi listrik. Anak-anak di sana juga bersekolah dan mereka sudah terbiasa sama yang namanya turis. Huhuu..  mereka tidak takut untuk difoto terus minta permen. 😛 *rogoh-rogoh tas selempang tidak ada permen, cuma kasih senyum aja deh jadinya. 😀  

Sore (11/6) ketika saya beserta seorang teman yang saya panggil Kak Echy dan suami, beserta tetangga asrama polisi-nya (suami kak Echy ini Polisi) berkunjung ke Bena, warga di sana sedang giat berlatih. Tidak ditemui satupun aktifitas ibu-ibu menenun di pendopo rumah. Semua turun ke tengah kampong, melatih tari-tarian dan kor. Ada apa? 

Ketika ditanyai seorang Bapak menjawab bahwa tanggal 15/6 nanti akan ada pesta emas yang dirayakan secara besar-besaran dan mengundang Gubernur NTT. Ini bukan berarti pesta emas untuk ultah yang ke 50 tahun gitu. Kampong ini saja peninggalan zaman megalitikum.Karena takut mengganggu keseriusan warga, sayapun tidak banyak bertanya lagi. Hanya sedikit berbincang di pos masuk yang dijaga seorang ibu dengan dilengkapi buku tamu dan kotak sumbangan.Senja sudah turun di balik gunung Inerie saat warga masih serius berlatih sebagian lagi mendirikan tenda-tenda di tengah kampong dan kami pun pamit pulang.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *