Cerita Nongkrong di Pekuburan, Ambon War Cemetery

Tahun 2017 sewaktu mudik ke tanah kelahiran suami, saat melewati komplek  berpohon besar nan hijau berpagar besi saya bertanya itu apa, dijawablah sama suami kalau itu pekuburan.

Eh kok cantik ya? Kayak taman kota.

Bahkan taman kota biasanya tidak sebegini dijaga. (biasanya untuk daerah Timur yaa hahaa)

Kenapa pekuburan ini begitu terawat?

Adalah Ambon War Cemetery, pekuburan bagi tentara Perang Dunia II di tengah kota Ambon.

Ternyata pekuburan itu kepunyaan Australia. Lebih tepatnya didanai segala macam perawatannya oleh Australia. Bahkan ada hari tertentu dalam 1 tahun diadakan semacam peringatan dan kerabat tantara yang dimakamkan di Ambon War Cemetery tersebut berdatangan. Ada 2000an tantara Sekutu dimakamkan di tempat itu Australian, New Zealand, Belanda, India dll

Entah itu pihak pemerintah Australia ataupun swasta Australia tertentu, pilihan untuk tetap memperhatikan sekomplek makam para seradadu di tanah asing cukup membuat terpana.

Dari pintu masuk tidak ada kesan seram atau angker seperti pekuburan pada umumnya. Penjaga ramah menyambut kita. Kita lihat beberapa memberikan uang jasa kepada penjaga itu, akhirnya kita ikut memberikan. Waktu itu tidak banyak sih, kalau tidak salah 10K.

Setelah masuk ke dalam kompleks barulah nampak nisan-nisan kuburan para seradadu yang berderet rapi. Nama, tanggal lahir, asal negara terpatri jelas di nisan yang berderet rapi. Ada bangunan monument / memorial building juga di dalam kintal tersebut, mungkin digunakan saat acara peringatan dan Honnour Wall tempat peziarah meletakan bunga pada saat hari peringatan.

Tampaknya pekuburan tersebut lagi hits di kalangan muda-mudi untuk dijadikan spot foto-foto. Ada yang duduk berkelompok sambil gitaran

Memang sih tempatnya instagramable. Begitu asri dengan pohon-pohon tua yang menaungi rerumputan yang terpotong rapi, seperti kanopi hijau di atas permadani hijau.

Jauh dari kesan seram, Ambon War Cemetery ibarat tempat oase bagi yang ingin piknik santai di tengah kota yang padat.

Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa suatu saat akan nongkrong di pekuburan, karena seumur hidup biasanya ke pekuburan cuma untuk menghadiri pemakaman keluarga atau kenalan, nyekar kuburan keluarga dan ikut acara jerit malam waktu pramuka dulu (iseng banget deh senior pasang rute melewati pekuburan!)

Terbayang wajah ortu di rumah sudah pasti melarang bawa-bawa balita main ke pekuburan.

Tapi kalau pekuburannya se-asri ini pasti ortu juga aman aja kali ya?!

Etapi orang Indonesia juga banyak yang tidak takut sih, kan ada juga tuh yang resepsi nikahan di pemakaman umum >,<

Bertiga Nadira, suami dan saya duduk santai sambal sesekali mengambil gambar hingga tak terasa sore pun kian temaram dan kami memutuskan untuk pulang.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *