Tentang Mengomentari dan Mencintai Diri Sendiri

Baru-baru ini ada artis papan atas Indonesia pamer foto berbikini dan nude di akun instagram tetapi dengan caption menarik tentang bagaimana ia menerima dirinya saat ini. Ya, dalam fotonya ada gelambir lemak yang ‘umum’nya akan mengundang komentar nyinyir netijen. Banyak yang tergugah dalam hal ‘mencintai diri sendiri’. Saya salut bagaimana public figure membuat sesuatu menjadi ‘berdampak’. Banyak yang merasa percaya dirinya kembali. Lha artis aja gitu kan, ada lemak-lemaknya. haha!

Sampai pada saat instansi berwenang dalam dunia per-internet-an mengatakan melanggar UU ITE terkait pornografi lalu kemudian diralat kembali setelah orang-orang melayangkan protes. Orang-orang ini yang sudah melek akan Self Love Campaign dan Body Positivity.

Saya pun sempat membuat instastory terkait itu. Saya sempat mengunakan fitur ask something “apa perkataan negatif terkait dirimu yang paling membekas? yang membuatmu teringat terus menerus bahkan merasakan bahwa Tuhan itu tidak adil.

Mengejutkan. Banyak sekali yang merespon. Banyak sekali luka yang tergores karena perkataan orang.

Mungkin bagi yang memberi komentar negatif itu menganggap biasa, anggap lelucon, anggap basa-basi menunjukan kepedulian dan perhatian. Namun perkataan itu juga bisa menyayat hati orang lain. Seringkali tidak kita sadari.

Pengalaman komentar yang fisik yang paling membekas bagi saya adalah suatu ketika di kelas Diklat ada teman kelas yang berbeda suku nyeletuk;

“Zy, Kok kamu ireng?”

Saya kesal pada saat itu, bukan karena saya malu mempunyai kulit gelap tetapi karena mestinya orang-orang yang lebih open minded a.k.a terpelajar, mulutnya juga harus terpelajar, tidak lemes, asal ceplas ceplos. Bahwasanya orang kita masih suka menerapkan standar cantik itu “putih, tinggi, langsing” padahal miss Universe 2019 saja Zozibini Tunzi dari Afrika Selatan yang notabene Afro. Mengomentari fisik seperti mengomentari karya Tuhan. Padahal semua ciptaanNya.

Beberapa cara mengurangi komentar yang membuat hidup orang jadi pahit

Pastikan tidak mengomentari fisik saat pertama kali bertemu.
“waduh lama yaa ga ketemu, makin gendut aja lu kek karung beras!”
Helooooo yakin deh seisi pertemuan kamu sama dia tidak akan berjalan baik. Bisa jadi saat dia akan menolak diajak bertemu kali berikut. Kamu mungkin tidak tahu dia sudah berdiet tapi malah terkena penyakit radang lambung misalnya..

Jika sudah mengetahui latar belakang seseorang apalagi ras, suku, status dsb jangan ditambah dengan pertanyaan absurd.

“Hei, kamu dari NTT ya? kok kalian orang sana keriting-keriting ya?”
memangnya ada apa sama keriting? keriting penyakit mematikan?

Kalau kamu bukan orang yang bertanggungjawab menghidupi orang tersebut kurangi deh komentar yang seolah-olah kamu sudah berjasa apa terhadap hidup dia. “Ya ampun, masih jerawat juga? padahal sudah banyak produk kecantikan sekarang ini!”

Duuuuuhhh.. situ ngomong kayak pernah ngasih duit beli skincare mahal ajah. Kamu mungkin tidak tau dia sudah berusaha seperti apa. Bisa jadi dia sudah mengurangi jatah makan siangnya untuk disisihkan beli skin care tapi masih belum berhasil menghilangkan jerawatnya.

Yaaa.. yaa.. Kita belum tentu bisa mengontrol komentar apa yang akan orang lontarkan terhadap kita. Makin banyak sekarang kasus bullying, hujatan jari netijen budiman dsbnya, yang pasti kita perlu membentengi diri, caranya?

Cintai dirimu.

Apapun fisikmu rupamu. jika bukan kamu siapa lagi? hm.. bahkan cintanya pasangan ada pasang surutnya.

Posisikan dirimu sebagai orang yang tidak gampang dibully/dihina.

Jika kita merasa secara fisik kita masih kurang (jangan deh merasa kurang. harusnya merasa cukup), kita punya prestasi akademik, karir baik, status sosial tinggi, profesi bagus, jadi pribadi yang berintegritas, punya ketegasan dan tidak menunjukan rasa tidak berdaya.. yang niat mau ngehina pun bakal segan)

Hindari toxic circle.

kamu berada dalam lingkungan yang orang-orangnya suka bawa pengaruh negatif ke pikiran kamu? coba ganti circle deh. daripada kamu jadi bahan bullyan atau jadi pelaku bullying juga.

Tingkatkan mekanisme coping stress.

Coping mengacu pada upaya kognitif dan behavioral untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam situasi kehidupan, terutama yang bersifat menekan. Kata para ahli psikologi sih Coping yang efektif umtuk dilaksanakan adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya. Jika kamu sudah mencintai diri kamu, sudah melakukan terbaik untuk dirimu, tapi kerap masih dikomentari yang pahit juga saatnya kamu menyeting pikiran kamu untuk bebal, cuek, bodoamat lah yaaaa. Menurut saya ini mekanisme Coping stress pilihan agar kamu tidak terpuruk dalam depresi.

We are worthy of love regardless of our body size, our skin tone and our imperfection

Untuk kamu yang baca ini peluk dirimu sendiri dan bilang ;

“Kamu hebat, terimakasih sudah berjuang dan bertahan selama ini. Teruslah sehat dan kuat”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *