Menjadi Pekerja Bukan Sebuah Kesalahan

Di sebuah postingan akun financial advisor yang membahas tentang income sempat terbaca oleh saya, ada komentar yang mengatakann bahwa ‘percuma gaji segitu kalau cuma jadi pegawai, pesuruh, lebih baik jadi pengusaha. Jelas usaha punya sendiri’

Sungguh logika saya tidak sanggup mencerna perbandingan tersebut.

Menjadi pegawai atau karyawan atau pekerja atau buruh bukanlah aib, bukan pula sebuah kesalahan.

Pengusaha atau karyawan adalah sama-sama bertujuan untuk mencari nafkah. Tidaklah perlu dibanding-bandingkan.

Sayangnya, kebanyakan saat ini motivator dan media acapkali over glorifying terhadap pengusaha. Entrepreneur, startup, bisnismen bla blaa bahkan seringkali bertebaran  meme-meme atau quotes yang mendiskreditkan pekerja misalnya ‘Setinggi apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetaplah karyawan. Sekecil kecilnya apapun usaha Anda, Anda adalah BOS-nya’

Belum lagi sentimen sentimen yang membawa nasihat keagamaan yang seperti ‘udah resign saja berdaganglah lebih banyak pahala daripada mudharatnya. mohon maaf sekadar mengingatkan!’

Oke baik, bosquee..

Bos,

Tidak semua harus menjadi pengusaha. Iya! Kalau semuanya jadi pengusaha yang bantuin produksi dan pelayanan konsumen siapa? Robot. Perlu karyawan. Apalagi kalau usahamu berkembang. Misalkan dari 1 toko kelontong kecil karena makin sukses lalu perluas usaha, ya minimal butuh satu pramuniaga buat bantu, bos.

Tidak semua harus menjadi pengusaha. Iya! Kalau semuanya menjadi pengusaha, bagaimana dengan generasi berikut, bayangkan jika tidak ada guru, dosen, dokter, ilmuwan, pemadam kebakaran, pekerja konstruksi, bidan, pilot, kurir,  nahkoda kapal dll. Yah coba saja dibayangkan. Saya sih tidak sanggup.

Tidak semua harus menjadi pengusaha, apalagi star-up yang lagi naik daun seperti sekarang ini. Ttidak semua anak muda harus memulai startup. Probability success kecil dan para motivator cenderung menyederhanakan realita dengan menggambarkannya sebagai sesuatu yang fun. Tapi jika merasa mampu keep going on.  Asal ambisi menjadi pengusaha tidak malah menjerumuskan dalam lilitan hutang dan kriminal.

Menjadi pekerja juga banyak hal seru, misalnya nih;

Tidak perlu mikir omset, bangun relasi bisnis, jejaring, rugi laba, asset, cash flow dkk. Tidak pusing saat harus mikir  recruitment, pesangon yang resign, jaminan kecelakaan kesehatan pekerja. bayar gaji karyawan, bayar pajak, bayar thr, biaya operasional, banyak sekali ternyata biaya ini itu. oh jangan lupa saingan bisnis yang nakal dan tidak fair.

Kalau kerja lewat waktu bisa hitung lembur. Kalau pengusaha sendiri kan yaa bisa jadi tidak dihitung. CMIWW

Jika target dan tugas diselesaikan dengan baik hati lega, tidur tanpa berpikir macam-macam lagi, tinggal tunggu hari gajian saja syalalalaa

Menjadi karyawan bisa memilih libur atau cuti tanpa diganggu urusan pekerjaan. Pengusaha? Kalau libur artinya tidak ada pemasukan, ya kalau dia merangkap pengusaha sendiri. Tapi walaupun punya karyawan hati dan pikirannya tetap pada bisnis.

Nah jadi ikut banding-bandingkan deh.

Selama tidak melanggar norma agama dan hokum yang berlaku menjadi karyawan ataupun menjadi pengusaha seharusnya tidak perlu dibanding- bandingkan apalagi menjatuhkan. Sudah ada porsi yang saling melengkapi, saling mengisi.

So, kalian yang menjadi karyawan jangan berkecil hati! Chin Up, workers. Menjadi pekerja bukanlah sebuah kesalahan. Tetap bekerja dan berusaha yang terbaik. Temukan alasanmu untuk bersyukur karena luar sana banyak yang susah mencari penghasilan apalagi di saat pandemi seperti ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *