Alasan Kenapa Mama Sering Menjadi ‘Penyapu’ Sisa Makanan Anak

Kalian sudah pernah terinfo kalau Indonesia masuk rangking 2 sebagai negara produsen sampah pangan terbanyak di dunia berdasarkan  “Food Sustainable Index” (2018) terbitan The Economist Intellegent Unit bersama Barilla Center For Food and Nutrition Foundation? Disebutkan rata-rata setiap penduduk Indonesia membuang sekitar 300 kg makanan per tahun. Fakta di atas menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang dengan perilaku konsumtif pangan yang tinggi, melebihi negara adidaya sekelas Amerika Serikat yang masing-masing warganya membuang 23 kilogram lebih sedikit dari penduduk Indonesia.

Duh!

Dalam pandangan agama sendiri, Islam melarang umatnya membuang-buang rezeki yang diperoleh. Tidak boleh mubazir. Menghabiskan sisa makanan sejatinya memiliki filosofi tersendiri yakni menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

“Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak-hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap boros, sesungguhnya orang yang suka bersikap mubazir adalah teman setan” (QS. al-Isra’: 26 – 27).

Nah kan! Mubazir temannya setan. *setan bilang “yee salah mulu gue, manusia yang ga abis makan pun!”*

Anak saya, Nadi, picky eater kalau soal makan besar. Kadang menu dengan porsi tertentu dia habiskan, tapi seringnya tidak habis dan berujung di “tong sampah” orang tua. Dulu saya termasuk anak yang picky eater juga dan makanan sisa saya selalu di’sapu bersih’ oleh Mama.

Kenapa kaum Mama sering menjadi murka sesoal sisa makanan ini?

Kenapa kaum Mama sering menjadi ‘penyapu’ sisa makanan anak?

Iseng iseng bikin poling di IG story, antara kaum Mama dan kaum Bapak siapa yang biasanya menjadi ‘penyapu’ sisa makanann anak?

Tentu Kaum Mama adalah juaranya.

Lebih dari 80% yang respon menjawab Mama. Sisanya menjawab Bapak.

Beberapa puluh tahun setelahnya baru saya tersadar bahwa dahulu ketika sering menyisakan makanan kenapa selalu menjadi bahan  omelan Mama. Pun piring dengan sisa makanan yang saya tinggalkan begitu saja di meja sudah teronggok di bak cuci tanda tanpa ada sisa lagi. Atau seringkali Mama mengeluarkan analisis “Pengaruh Makanan Mubazir dan Rejeki yang Masuk.” wkwkwkkw Dahulu itu hanya angin lalu. Iya namanya juga masih jaman jahil-iyah kan yah. Maaf Ma, kini baru saya tahu maksud dari semua itu.

Jadi begini,

Masyarakat Indonesia yang kehidupan patriaki melekat erat ini menjadikan urusan Dapur adalah urusan Mama. Mama adalah pemegang kunci lapar dan tidaknya seisi rumah, walaupun kebanyakan uang belanja dari Bapak tapi Mama adalah penanggugjawab. Pokoknya urusan kekenyangan anak sejak dari dalam kandungan adalah urusan Mama. Uhuk. Lalu tanggungjawab itu pun melekat sampai anak bisa mandiri mencari sesuap nasi, di warung misalnya.

Budaya patriarki yang sering nampak adalah kebiasaan turun temurun di meja makan, misalknya dimana disiapkanlah dada ayam terbaik untuk Bapak, oh Mama cukupkanlah engkau dengan ceker ayam atau buntut atau rempelo. Terpola bahwa Bapak harus mengkonsumsi yang terbaik. Makanan sisa is a big no.

Syukur Alhamdulillah sih, di rumah kita mengalah, the best part of food ya harus diprioritaskan untuk anak yang mana tumbuh kembangnya ke atas, bukan ke samping. Eh.

Mama dan Pasar.

Mama selalu meluangkan waktunya ke pasar. Baik Mama pekerja atau Mama rumah tangga. Kenapa ke pasar? Kan ada warung sayur. Sebagian mama percaya ke pasar adalah jalan ninja menemukan bahan segar dengan harga miring. Apalagi belanja langsung dari petani turun gunung. Di Labuan Bajo ada 2 hari pasar, ya tiap hari ada yang jualan di pasar rakyat, tapi Rabu dan Sabtu adalah harinya para petani, papalele bertumpah ruah dengan hasil tanii yang segar dari kebun-kebun sayur di dataran tinggi Ruteng atau Bajawa.

Nah Mama suka nih sikut sikutan ikutan beli yang first hand karena harganya lebih murah. Sampai tahu-tahu matahari sudah sangat menyengat ubun-ubun, keranjang belanja penuh dan sandal jepit berdebu baru ingat pulang. Keranjang belanja untuk seminggu itu ya sama kayak angkat besi ya buk?! LOL

Mama dan kotak kotak penyimpanan

Setelah berpanas-panas di pasar, Mama harus memilah mana bahan yang perlu dicuci sebelum disimpan mana yang tidak. Setelah rampung mulailah ritual ‘kotak-kotak’. Persiapan bahan makanan untuk diisi dalam kulkas. Iya iya, food prep.

Mamasak

Mama dan Masak. Kok kedengaran bagusya. Di dalam rumah tangga, dapur kebanyakan adalah ruang kerja Mama. Ruang Mama untuk berkreasi, ruang menemukan keefektifan waktu, kapan harus memilih menu yang estimasi makanan ini selesai jam berapa, jam segini sudah anak-anak sudah harus makan bla blaa.. mencoba resep-resep baru, menemukan style memasak, menemukan menu yang efisien, yang ramah kantong *apalagi kalau tanggal tua 🙁

Di hari kerja biasanya saya masak yang simple, yang cepat selesai sebelum memburu mesin absensi tetapi kalau di akhir pekan atau hari libur saya meluangkan waktu lebih untuk mencoba menu baru, menu yang tahapannya banyak. Semata-mata untuk meningkatkan skill dan juga supaya anak tidak bosan. *taa..taa..tapi anak doyannya indomie goreng gimana dong 🙁

Pada umumnya Mama lebih banyak tahu bagaimana proses sampai makanan tersebut ada di meja makan. Bagaimana cuan-cuan keluar dari dompet di pasar. Bagaimana capeknya menenteng keranjang. Bagaimana terkena minyak goreng panas yang meletup, bagaimana tinta cumi menghitamkan kuku jari, bagaimana tetiba sisik ikan meloncat ke rambut. Mama yang lebih banyak paham makanan tidak boleh dibuang begitu saja di tong sampah.

Oh iya Bapak juga masuk dapur sih. Buat bantu cuci piring atau pasang gas. Masak mie ceplok tengah malam kalau laper pas begadang. Siapa hayooo? itu Bapaknya anak saya. 😛

Sama halnya dengan tugas membesarkan anak, menjadi ‘penyapu’ harusnya tanggungjawab bersama antara Mama dan Bapak. Bayangin punya anak 3 lalu ketiganya moody, picky eater. Mama sudah bisa langsung jadi dump truck. Apalagi waktu olahraga membakar timbunan itu tidak pernah dilakukan. Ampun. Padahal ini bisa berefek juga ke hal lain:  beli pakaian baru deh karena yang lama tidak muat lagi. Sebuah pengeluaran lagi. LOL

Sudah seharusnya food waste awareness dan pencegahan ke-mubazir-an adalah tugas segala Bangsa, baik Bapak atau Mama.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *