Menjadi Keluarga Pembaca Buku

Ini adalah sebuah tulisan kontemplasi untuk diri sendiri

Semakin berusia semakin sedikit waktu luang yang bisa dipakai untuk melakukan kegemaran tertentu. Salah satunya adalah membaca buku

Entah kenapa..

Entah waktu yang semakin singkat dan kesibukan lain yang semakin meningkat.

Entah skala prioritas yang berubah setelah bekerja dan berkeluarga

Entah membaca saat ini sudah terkonversi dalam membaca tulisan yang lewat dari lini masa sosial media

Masih teringat dulu saat masih Sekolah Dasar dan sudah lancar membaca, saya adalah anak yang suka melahap buku bacaan apa saja. Majalah Bobo adalah favorit, meski tinggal di daerah kabupaten yang tidak memiliki toko buku sekelas Gramedia, Bapak saya mencoba memenuhi hasrat membaca anaknya dengan meminjam buku di perpusatakaan daerah atau membeli buku saat perjalanan dinas di kota besar.

Saya masih ingat juga diajak Bapak masuk ke kompleks Gereja, salah satu Gereja terbesar di Ende, karena di dalamnya ada toko buku. Kami berkeliling mencari bacaan untuk Bapak waktu itu. Toko buku ini memang milik Yayasan Gereja. Menyumbang banyak untuk kota kecil yang susah mencari sumber literasi.

Seperti baru kemarin terjadi. Dahulu saat tidur siang saya tidak sabar menanti  kepulangan Bapak dari kantor. Ya karena beliau biasanya membawa serta buku cerita pinjaman dari Perpustakaan Daerah. Ketika anak lain mungkin saat ayahnya pulang dari kota besar membawa mainan dan pakaian, Bapak lebih seringnya membawa buku, entah itu buku pelajara, majalah anak-anak atau buku cerita, kadang juga majalah bekas dari kakak sepupu biasanya majalah Bobo. Yah Bapak saya tidak malu untuk menenteng semua itu. Padahal bisa dibilang jarak tempuh jauh dari Jakarta-Ende.

Semua ketertarikan membaca ini ada hubungan dengan lingkungan. Yang paling dekat adalah keluarga. Bapak saya adalah sosok yang gemar membaca. Sekarang setelah pension Bapak memang lebih banyak menghabiskan waktunya membaca dan menelaah buku agama. Pun Abang saya, penggemar komik serial. Alm. Paman saya pun penggemar novel pendekar Mandarin yang  memang hits pada jamannya. Bibi saya suka berlangganan majalah dan koran Nova. Mama sih sukanya buku resep masakan dan kue.

Sesaat sebelum saya menulis ini, Kakak Bapak saya, yang biasa kami panggil Bangga’e mengeluh sudah susah membaca buku karena persoalan mata. Pun kacamata autofokus tidak membantu beliau juga.

Betapa orang tua, keluarga saya, di usia semakin senja masih gemar membaca. Oh beliau bahkan mengkhawatirkan koleksi buku-bukunya di lemari akan dikemanakan kelak karena anak-anak sekarang ini sudah punya metode membaca yang lain, dari buku digital dan sebagainya.

Membaca apapun bentuk bukunya memang banyak sekali manfaatnya.

Selain menambah ilmu dan hiburan, ada beberapa manfaat membaca antara lain;

Memperlambat Proses Penyakit Alzheimer

Melansir Caring Everyday, membaca menurunkan risiko protein beta amyloid dalam otak yang meningkatkan risiko Alzheimer.

Meningkatkan Daya Ingat

Kebiasaan membaca buku meningkatkan daya seseorang. Ketika sedang membaca, otak tidak hanya menguraikan kata-kata yang kamu baca. Dengan membaca, neurobiologis memproses gambar maupun ucapan yang muncul ketika kamu membaca. Saat membaca bagian otak yang mengatur penglihatan dan bahasa bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang kamu mengerti dan lebih mudah untuk diingat.

Meningkatkan Kemampuan Konsentrasi

Membaca mampu meningkatkan kemampuan konsentrasi menjadi lebih baik lagi.

Menurunkan Risiko Stres dan Depresi

Melansir Huffpost, membaca buku dapat digunakan dengan lebih efektif untuk menurunkan stres dibandingkan berjalan kaki atau mendengarkan lagu. Jadi, tidak ada salahnya membiasakan diri untuk belajar mencintai kegiatan membaca agar kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.

Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Memiliki kebiasaan membaca buku meningkatkan kemampuan komunikasi dalam otak. Selain itu, penambahan kosakata menjadi cara yang baik untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam keseharian.

Begitu besar manfaat membaca  namun berbagai survey  menyatakan minat baca di Indonesia masih rendah. Padahal berdasarkan hasil penelitian juga membuktikan bahwa anak yang suka membaca bukan hanya akan sukses di sekolah, tetapi juga kelak di tempat kerja.

Agar anak gemar membaca maka tidak ada jalan lain kecuali orang tua ikut terlibat.

Saya berharap masih bisa melanjutkan kegemaran membaca ini sampai akhir hayat, atau setidaknya membangun minat baca untuk anak-anak kelak.. Seperti yang Bapak saya lakukan.

Karena sebaik-baiknya motivasi adalah dari keluarga sendiri.

Selamat Hari Buku Sedunia.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *