Verifikator dan Perjuangan Tanpa Pamrih di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat segala hal tampak sulit untuk dijalankan, hari-hari yang dilalui merupakan sebuah perjuangan bagi semua orang untuk melanjutkan hidup. Lebih susah lagi karena musuh kita saat ini bukan penjajah, melainkan virus, makhluk kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata kepala biasa.

Unsur Pemerintahan, Aparat keamanan, Tenaga kesehatan dan semua elemen masyarakat berjibaku melawan pandemi. Tidak luput juga Duta BPJS Kesehatan yang terjun langsung membantu tugas Negara berjuang melalui wabah ini.

Sebagaimana diketahui sejak awal pandemi covid19 merebak di Indonesia di awal 2020, BPJS Kesehatan ditunjuk pemerintah sebagai verifikator klaim biaya penanganan pasien COVID-19. Penunjukkan itu tercantum dalam surat dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Nomor S.22/MENKO/PMK/III/2020 tentang Penugasan Khusus Verifikasi Klaim COVID-19.

Pada sebuah kesempatan wawancara dengan sebuah media pada awal bulan Juli 2021 lalu, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Bapak Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph D, AAK menjelaskan total pengajuan klaim Covid-19 periode 28 Januari 2020 sampai 19 Juni 2021 sebanyak 1.044.855 kasus dengan biaya sebesar Rp 61,4 triliun. Dari angka tersebut, BPJS Kesehatan telah selesai memverifikasi 958.210 kasus dengan biaya Rp 58,6 triliun (95,46%) dengan sisanya masih proses verifikasi klaim.

Dalam menjalankan tugas khusus ini verifikator diikat oleh aturan-aturan dari Kementeran Kesehatan RI. Adapun aturan petunjuk teknis proses verifikasi klaim tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan, yang dalam pelaksanaan sejak awal pandemi Covid 19 mengalami beberapa revisi dan perubahan. Detail-detail kalimat aturan yang seringkali memantik ketidaksepahaman antara verifikator dan faskes sehingga status klaim menjadi klaim dispute atau klaim yang tidak dapat dilanjutkan proses pembayarannya karena perlu ditinjau kembali oleh tim khusus.

Sebagai Duta BPJS Kesehatan yang memang terkenal militan dan harus selalu siap berubah kapan pun, Verifikator dituntut untuk menyesuaikan segalanya. Termasuk perubahan dalam jam kerja. Tuntutan pekerjaan utama yaitu menjalankan fungsi bidang Manajemen Pelayanan Primer dan Rujukan serta tugas lainnya harus  diselesaikan tepat waktu. Klaim Covid19 pun tidak kalah penting, karena Service Level Agreement atau SLA yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan tidak bisa diganggu gugat. Semua harus sesuai tepat waktu. Faskes dituntut untuk mengajukan klaim, BPJS Kesehatan dituntut untuk verifikasi, Kemenkes dituntut untuk membayar. Beginilah lingkaran tak terputus ini bekerja. Semua lini berjuang dengan caranya masing-masing.

Waktu, tenaga, airmata, keluarga, kesehatan fisik dan mental.

Ini adalah pengorbanan dari perjuangan panjang para Verifikator walaupun tidak berjuang langsung di ruang isolasi Covid 19.

Sejak terjadi peningkatan kasus berbulan-bulan lalu, Verifikator BPJS Kesehatan menjadi semakin teruji perjuangannya. Tidak ada tempat untuk berpaling atau mundur. Validitas data verifikasi menjadi taruhan dalam membawa nama BPJS Kesehatan di mata eksternal; Presiden RI, Kementerian Kesehatan, dan Faskes. Tidak luput pula dari auditor yang selalu bertahap memeriksa hasil verifikasi klaim dari verifikator BPJS Kesehatan.

Verifikator harus tahu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas utama dan tugas tambahan verifikasi klaim Covid19. Dihitung-hitung waktu kerja biasa tak akan cukup, sehingga verifikator terpaksa memakai jam-jam istirahat dan jam bersama keluarganya untuk menyelesaikan pekerjaan. Hari libur digunakan untuk bekerja mengejar target verifikasi. Menjadi pemandangan lumrah di pukul 2 atau pukul 3 pagi kasak-kusuk masih ada verifikator yang bertanya dan berdiskusi di grup obrolan. Libur Hari Raya Keagamaan juga dimanfaatkan untuk tetap bekerja menyicil verifikasi. Cuti tahunan dipakai juga untuk bekerja. Prinsip Work Life Balance sangat susah untuk dipraktikan tapi para verifikator mengupayakan yang terbaik untuk keluarga dan juga untuk Negara.

Selain menyita waktu, verifikasi klaim covid 19 juga membuat verifikator mendapatkan tekanan lain. Ketidakpuasan akan hasil verifikasi tentu saja. Pertemuan demi pertemuan, pembahasan demi pembahasan alot dihadapi oleh verifikator dengan mitra faskes atau Pemda setempat. Selain itu, verifikator kerap dihadapkan dengan auditor eksternal yang sering melakukan pemeriksaan terhadap pengajuan klaim Covid19. Menjawab pertanyaan, menyajikan teknis verifikasi, menjelasan alasan layak – tidak layaknya sebuah klaim.

“Verifikator BPJS Kesehatan dapat apa dari verifikasi klaim covid19 ini? Apakah ada insentif khusus? Seperti nakes?” pertanyaan dari seorang auditor suatu ketika saat memeriksa hasil verifikasi penulis.

Tidak ada.

Verifikator di seluruh Indonesia saat ini sedang melakukan tugas khusus negara. Tugas tanpa pamrih. Verifikator adalah pejuang tanpa APD level 3. Berjuang dalam senyap membantu negara.

Verifikator harus terus bekerja, bahkan ketika angka dan huruf di tampilan layar monitor buram oleh airmata. Bergelas-gelas kopi habis agar tetap terjaga. Lelah, tentu saja. Verifikator harus tetap menjalankan fungsi verifikasi covid 19 walau kondisi status konfirmasi positif. Verifikasi dari tempat isolasi mandiri.  Tetapi tidak ada waktu berkeluh kesah. Verifikator sadar berkeluh kesah, bermalas-malasan tidak akan membuat tugas yang diemban akan selessai dengan sendirinya. Yang rugi dan dimintai pertanggungjawaban adalah verifikator itu sendiri. Hanya verifikatorlah yang dapat menolong dirinya sendiri dalam menyelesaikan tugas ini karena  tidak dapat dilimpahkan ke selain verifikator. Selama pandemi masih berlangsung, dapat dipastikan, kondisi seperti ini akan terus terjadi.

Inilah perjuangan verifikator di masa pandemi covid 19. Ikhlas berjuang meskipun berat beban yang dipikul. Masih ada rasa syukur bahwa perjuangan ini, seberat apapun, tidak sebanding dengan para pahlawan yang dahulunya mengorbankan jiwa raga demi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita hanya perlu terus melanjutkan perjuangan dengan kamampuan dan keahlian kita masing-masing. Kelak ketika kita telah merdeka dari pandemi, verifikator akan punya cerita tersendiri, mungkin pada anak cucu akan diceritakan dahulu pernah ikut andil membantu saat wabah covid 19 sambil menunjukan sertifikat tanda terimakasih dari Negara yang digantung di dinding atau di pigura dalam lemari usang.

Tidak ada doa yang paling sering diucapkan verifikator, selain diberikan kesehatan, kekuatan dan segeralah usai pandemi ini agar perjuangan tanpa pamrih ini pun berakhir. Yakin kita akan sampai pada titik kemenangan. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Selamat Hari Kemerdekaan RI ke 76.

***

Labuan Bajo, 11 Agustus 2021

Fauwzya Dean

**diikutkan dalam lomba artikel 17 Agustus

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *